cari disini

Random Posts

Wednesday, October 2, 2013

Jeritan dan tangisan mahasiswa abadi


#DjujuCute. Dari judulnya mungkin agak serem kelihatannya tapi memang begitu, tulisan ini lain dari tulisan biasanya, maaf. Tapi ini adalah kisah nyata yang nggak bisa djuju beritahu siapa nara sumbernya, demi keamanan sebut saja dia Kak Jupri

Inilah penuturannya yang djuju tulis apa adanya sesuai yang djuju dengar.


Menjadi mahasiswa, mungkin suatu kebanggaan karena nggak semua orang dapat merasakannya. Melepas lebel anak SMA dengan seragam kebanggannya putih abu-abu.

Waktu berjalan, semua baik-baik saja perkuliahan pun lancar. Teman-teman pun ada semua siap bantu membantu untuk menyelesaikan permasalahan yang ada mulai dari masalah kuliah sampai masalah kampung tengah.

Namun dengan berjalannya waktu satu-satu mereka pergi. Mereka pergi bukan karena tidak suka atau karena kesalahan yang pernah aku perbuat pada mereka. Namun mereka pergi untuk menggapai mimpinya masing-masing.

Mereka pergi nggak tinggal pergi sebuah kalimat terucap dari teman-teman yang pergi.

Yang intinya

“cepat susul kami, cepat selesaikan kuliahmu dan jika kamu ada masalah kami akan ada untuk membantu, walau tidak bisa sedekat dan bersama seperti dahulu kamu ada dalam doa kami, suport kami menyertai langkahmu diujung kuliahmu kawan”

Dan yang paling membekas adalah

“kawan mungkin kamu tinggal sendiri disini, ingatan kebersamaan kita mungkin bisa jadi menyakitkan buatmu dan membuat langkahmu berat untuk pergi kesini, tapi kamu harus melangkah menyelesaikan apa yang sudah dikerjakan ingat kawan tinggal selangkah lagi jangan hancurkan tangga-tangga yang udah kamu buat karena berasa berat untuk menyelesikan tangga terakhir. Percayalah kawan mungkin kamu sendiri tapi semangat kami, semangat kita semangat semua orang yang berjuang untuk menyelsaikan kuliahnya masih terekam disini oleh waktu”

Ya itulah sedikit pesan-pesan dari teman-teman yang ingin melihat aku sukses. Memang terlihat menyedihkan ketika satu persatu teman seperjuangan pergi meninggalkan kita.

Tinggalah aku kini sendiri yang kadang disebut mahasisa, mahasiwa abadi atau mahasiswa yang disayang dosennya. Mungkin itu terlihat lucu untuk dibicarakan atau sekedar menjadi bahan olok-olokan. Padahal itu membuat panas telinga, hati yang sedih berasa ingin lari dan memutar kembali dunia atau sekedar ada teman yang bisa menghibur.

Belum lagi kalau di tanya sekarang semester berapa. Seakan langit runtuh dan tubuh ini kaku membisu untuk menjawab. Semester sekian jawabku dengan gontai menjawab.

Apa lagi kalau ditanya sampai dimana kuliahnya, kapan sidang, kapan wisuda. pingin rasanya aku bertukar tempat menjadi sipenanya dan mengganti pertanyaannya.

Dan beberapa waktu lalu temanku ada yang menikah lalu bertanya

“kapan menyusul ?”

Aku bingung ingin menjawab apa bagaimana ingin menikah bekerja saja belum, kuliah pun diujung penantian untuk usai.

Tapi semua itu akan aku tepis, tak ada mahasiswa abadi, tak ada mahasisa dan tak ada mahasiswa yang disayang dosen. Aku pasti selesai bulatkan tekad.

Teman aku pasti selesai, akan aku sampaikan kabar gembira bahwa aku telah selsai kuliah pada kalian yang selama ini bersama, mensuport dari jauh dan mendoakanku.

Terima kasih teman atas kebersamaannya selama ini, doanya, dukungannya serta semuanya yang pernah kita alami dulu.
#

Demikianlah cerita dari nara sumber djuju semoga dapat diambil pelajaran dan untuk  kita terutama yang sedang kuliah cepat selesaikan dan untuk yang mendapat predikat seperti cerita diatas juga cepat selesaikan percaya deh nggak ada mahasiswa abadi pasti selesai.

No comments:

Post a Comment

Popular Posts